Tuesday, May 14, 2013

Mengunjungi Keraton Surakarta


Ini pertama kalinya saya mengunjungi Keraton surakarta. Walaupun jarak Semarang Solo itu dekat, tidak lebih dari `4 jam kalau berkendara santai. Kunjungan untuk pertama kalinya ini merupakan rangkaian acara ASEAN Blogger Festival Indonesia. Di keraton ini juga acara ABFI ditutup.



Diantar dengan 5 bis besar, seluruh peserta ABFI dan panitia mengunjungi keraton Surakarta, walaupun siang itu begitu terik, tetapi tidak sedikitpun menyurutkan langkah kami semua menyusuri warisan budaya Indonesia ini. Bis kami parkir berjejer di pinggir jalan, untung tidak menimbulkan kemacetan. Kemudian seluruh peserta harus menyebrang jalan untuk masuk ke komplek keraton. Sebelum melangkah jauh menyusuri ruangan, kami ditahan, diberitahu peraturan yang berlaku jika memasuki komplek; bagi wanita yang tidak memakai celana harap untuk memakai celana, sedangkan bagi yang memakai sandal harus melepas sandalnya alias nyeker. Kemudian hening. Setelah ada pembicaraan, ternyata hanya  peraturan kedua yang tetap berlaku, untuk para wanita yang memakai rok boleh tetap masuk.



 


Ternyata, komplek itu bukan komplek utama keraton, kami harus menyebrang jalan lagi untuk memasuki komplek utama keraton Surakarta. Setelah melepas sandal, saya kemudian mengeksplor setiap sisi ruangan yang saya lewati, termasuk juga mengabadikannya dengan smartphone. Sedikit berpikir dalam hati, kenapa patung-patung yang ada di luar ruang penyambutan peserta ABFI adalah patung-patung bergaya patung eropa, bukan patung model pewayangan atau minimal sejenis dengan patung-patung yang ada di komplek sebelumnya? Jawabannya mungkin akan saya search di internet :) dengan wifi yang disediakan salah satu anak perusahaan telkom indonesia yaitu wifi id



Di dalam ruangan penyambutan, kursi-kursi sudah tertata rapi. Cukup luas untuk menampung seluruh peserta yang mencapai 200-an orang. Tidak ada penerangan yang wah, tetapi itu tidak apa-apa, saya masih bisa melihat sinden menyanyi dan pemain gamelan memainkan alat musiknya. Juga tidak ada kipas angin yang mendinginkan ruangan, itu juga tidak apa-apa, angin sepoi-sepoi yang masuk ke ruangan sudah cukup menghilangkan rasa gerah karena panas terik matahari.



Saya tidak bisa memberikan penilaian tentang kunjungan ke keraton Surakarta ini karena sebelumnya saya belum pernah berkunjung ke keraton mana pun. Jadi saya tidak punya pembanding sama sekali. Mungkin sedikit saran, jalan yang membelah komplek pertama dengan kedua ditutup, terus jalannya dialihkan melewati depan komplek pertama. Saya kemarin sempat kaget karena ternyata harus menyebrang lagi jalan yang ramai kendaraan seliweran. Takutnya, ada orang yang lalai tiba-tiba nyelonong di jalan yang lagi ramai.



Acara dimulai, sinden mulai melantunkan lagu berbahasa jawa dengan diiringi gamelan. Kemudian sambutan dari pihak Keraton Surakarta. Bercerita tentang sejarah Keraton Surakarta ini, mulai dari terbentuknya, peran serta pihak keraton di zaman kemerdekaan, sampai penyampaian harahap terwujudnya keinginan menjadi daerah istimewa seperti Yogyakarta. Sambutan selanjutnya dari perwakilan Kementerian Luar Negeri, yang menyampaikan terima kasih atas partisipasi semua pihak sehingga acara ABFI berjalan lancar. Acara selanjutnya diisi dengan tarian tradisional dan pengumuman pemenang untuk lomba-lomba yang diadakan sponsor.



Saya hanya bisa berdoa semoga harapan keraton Surakarta mendapatkan haknya yang pernah dijanjikan pemerintah bisa terwujud, dan semoga saja pemerintah ikut melestarikan budaya warisan keraton dengan turut membantu dana untuk operasional keraton. Gaji abdi dalem 90 ribu perbulan adalah tidak manusiawi. Tetapi saya mengerti kondisi keraton, tidak ada sumber pemasukan untuk membiayai operasional keraton. Maka dari itulah diperlukan peran serta pemerintah yang mendapatkan manfaat dari event-event yang diadakan keraton.



 


foto-foto diambil dari fotosekitar dan asean blogger

2 comments:

wah keren ya mas acaranya kemaren,keliling kota solo kemana saja mas...

ke mangkunegaran, keraton solo, naik kereta uap, urban forest, sama candi sukuh

Post a Comment