Thursday, November 15, 2012

Petualangan ke Medini



Hallo sahabat petualang semua, kemana rencana kalian mengisi liburan panjang kali ini? Ke pantai udah bosan, jalan-jalan di mall apalagi, kegiatan setiah hari, hehehe... Bagaimana kalau mencari sesuatu yang beda? Seperti yang telah kami lakukan, anak-anak loenpia.net melakukan perjalanan untuk mengisi liburan panjang dengan mengunjungi sebuah tempat yang berada di ketinggian kurang lebih 1500 dpl. Nama tempat tersebut adalah Medini. Sebagian besar dari kita, anak-anak loenpia masih sangat asing dengan Medini, kecuali untuk mereka yang hobi mendaki gunung. Yup, medini merupakan salah satu jalur pendakian ke gunung ungaran. Ada apa sih di Medini?

Medini adalah sebuah kawasan perkebunan teh yang masuk wilayah kabupaten Kendal. Sejuk, hijau, dan pemandangan yang yahud adalah gambaran yang diberikan oleh mereka yang pernah kesana. Rasa penasaran membuat kami untuk segera menuju kesana. Pagi-pagi kami sudah siap untuk melakukan perjalanan. Dengan dua buah mobil yang kami sewa dari rental, perjalanan pun dimulai. Start dari kalibanteng lurus menuju ngaliyan, kemudian mijen, lewat cangkiran dan lurus menuju boja. Setelah itu menuju Taman rejo. Sampai di sini, jalan masih mulus-mulus saja. Kalau menggunakan mobil Terios, mungkin bisa mencapai kecepatan maksimal 120 km/jam.

Setelah melewati kelurahan Taman Rejo, barulah petualangan dimulai karena jalanan mulai tidak mulus dan berbatu. Harus sabar dan ekstra hati-hati karena jalan hanya pas untuk dua mobil simpangan. Butuh sekitar 30-40 menit untuk sampai ke perkebunan teh Medini, tergantung juga dengan mobil yang digunakan. Kalau menggunakan mobil sahabat petualang, Terios 7 Wonders, perjalanan akan jadi lebih cepat karena kemampuan akselerasi yang maksimal. Butuh akselerasi yang maksimal untuk melibas jalanan yang tidak mulus dan berbatu.



Sampai di Medini, sebenarnya kami mau bertemu dengan Pak Min, tetapi rupanya kami tidak beruntung karena Pak Min Tidak ada di tempat. Akhirnya kami hanya beristirahat untuk makan, sholat dzuhur, dan tentunya foto-foto narsis. Setelah capeknya hilang dan pantat sudah tidak pedes lagi karena perjalanan yang seperti offroad menuju medini, kami melanjutkan perjalanan menuju goa jepang.



Sepanjang perjalanan kita akan melihat pemandangan yang begitu hijau, kebun teh di sepanjang kanan dan kiri jalan. Jalan yang berbatu dan berkelok-kelok serasa tidak terasa karena pemandangan yang begitu indah membius semua penumpang mobil. Yup, jika pendaki lain memilih berjalan kaki menuju goa jepang, kami lebih memilih untuk menggunakan mobil, biar cepat sampai tujuan, kesepakatan kami. Asyik melihat pemandangan dan mengaguminya sampai-sampai kami tersesat, seharusnya di pertigaan tadi kami belok kiri tetapi malah berbelok ke kanan, padahal sudah sampai jauh. Salah satu mobil terpaksa harus didorong karena tidak kuat berbelok di tanjakan. Coba kalau pakai Terios, baik yang matik maupun manual, pasti akan mudah berbelok ataupun putar balik di tanjakan.



Setelah melewati perjalanan yang sepertinya tanpa ujung, berkelok-kelok, tanjakan dan turunan terjal, akhirnya kami sampai di Promasan. Kami beristirahat di sebuah barak milik salah seorang warga. Makanan yang biasa saja menjadi begitu nikmat karena kelaparan setelah menempuh perjalanan yang begitu melelahkan, makanan ludes tanpa sisa, benar-benar kelaparan semua.

Setelah kenyang dan ngobrol-ngobrol sebentar di barak, kami semua membersihkan diri dengan mandi ataupun hanya membasuh muka saja. Air di kamar mandi terbuka ini begitu dingin. Bagi yang muslim tidak lupa untuk sholat ashar di mushola yang tidak jauh dari kamar mandi. Perjalanan menuju goa jepang kami lakukan dengan berjalan kaki karena memang tidak begitu jauh dari barak tempat kami beristirahat. Kita perlu membawa center karena di dalam goa begitu gelap. Selesai menyusuri goa, kami menjelajahi perkebunan yang terbentang di atas bukit. Bukan untuk melakukan apa-apa, cuma foto-foto narsis, sifat umum seorang blogger, mengabadikan setiap momen dan kegiatan yang dilakukan untuk kemudian diunggah ke blog masing-masing.



Tak terasa hari udah mulai gelap dan kami bergegas untuk turun. Menyusuri kembali jalan berkelok-kelok dan berbatu. Capek dan badan pegal-pegal tak terasa, yang kami rasakan adalah senang dan senang ketika kami pulang ke rumah masing-masing. Pengen suatu saat kembali ke Medini.

foto-foto diambil dari sini: loenpia.net, blog didut, coretan petualang, blog pepeng

0 comments:

Post a Comment