Sunday, September 9, 2012

Temu Nasional Kewirausahaan Sosial

Suatu kehormatan bagi saya mendapatkan undangan teman-teman di Jaringan Rumah Usaha (JRU) yang menjadi tuan rumah Temu Nasional Kewirausahaan Sosial. Sebelumnya belum pernah membayangkan seperti apakah itu kewirausahaan sosial. Seteleh mengikuti acara yang digagas oleh sebuah organisasi yang diketuai oleh Bapak Rhenald Kasali, saya sedikit tahu tentang kewirausahaan sosial. Apa itu Kewirausahaan sosial? Ingat kata kata Pak Rhenald Kasali, bangsa ini menghasilkan bangsa penghafal. Dari pada cuma dihafal artinya saja, mending saya kasih arti nyata atau praktek dari kewirausahaan sosial.

Ibu Irma Suryani
Beliau adalah seorang yang mempunyai keterbatasan fisik tetapi mampu menciptakan lapangan kerja bagi orang-orang yang senasib dengan dirinya. Dengan kain bekas limbah pabrik tekstil dia menciptakan keset yang menembus pasar internasional, dengan kesetnya itu pula dia mendapatkan penghargaan sebagai wirausahawan muda teladan tingkat nasional.

Bahrudin
Pendiri lembaga pendidikan Qaryah Thayiybah, sebuah sekolah alternatif bagi masyarakat di sekitarnya. Sekolah tersebuy ia dirikan karena keprihatinannya atas biaya sekolah yang semakin mencekik, apalagi masyarakat di sekitarnya rata-rata hidupnya pas-pasan. Bertempat di dua ruangan rumahnya, dia dibantu sembilan guru lulusan IAIN mulai mengoperasikan sekolah yang kurikulumnya mengadopsi sekolah reguler. Walaupun hanya sekolah terbuka, bukan berarti tidak ada prestasi, dalam lomba cerdas cermat tingkat kota salatiga, sekolah tersebut mampu mengimbangi penguasaan materi siswa sekolah reguler. Sekolah ini juga pernah menjadi wakil salatiga dalam lomba motivasi belajar mandiri di tingkat propinsi, mewakili salatiga dalam konvensi lingkungan hidup pemuda asia pasifik di Surabaya, dan masih banyak lagi prestasi yang diperoleh sekolah terbuka ini.

Farha Ciciek
Seorang Ibu yang mengorbankan kehidupannya yang mapan di Jakarta hanya untuk mengembangkan daerah asalnya di Ledukombo Jember. Walaupun streotip yang melekat pada warga sekitarnya adalah susah diatur, egois, sulit diajak maju, kepala batu, sok pintar, dan label-label lain, yang kalau orang biasa mungkin sudah menyerah untuk mengubah sifatnya tersebut. Tetapi bagi Ibu Ciciek, itu bukanlah halangan yang untuk dihindari tapi rintangan yang harus dicari jalan keluarnya. Jalannya yaitu melalui anak-anak. Melalui permainan egrang, Ibu Ciciek berharap, anak-anak tersebut bisa bekerjasama, bersahabat, bergembira, belajar, berkarya, saling menghargai, sehingga mereka mereka bisa memajukan kampung mereka. Lewat permainan egrang, ledokombo sudah go internasional.

Drs. Ciptono
Pengelola sebuah SLB yang berhasil menghasilkan anak-anak yang berprestasi walaupun punya keterbatasan. Bahkan, sekolah yang dikelolanya beberapa kali meciptakan rekor muri untuk kategori tertentu.

Kemudian Gus Hafidz dengan pondok pesantren yang bukan cuma mengajarkan pendidikan agama saja tetapo juga pendidikan umum. Sugeng Siswoyudono dengan program 1000 kaki palsunya. Sumadi dengan program pembuatan jamban yang lebih higienis, istimewanya, masyarakat yang ingin membuat jamban bisa membayar secara kredit untuk jasa yang diberikan sumadi. Karena program inilah, Sumadi dijuluki manajer jamban. dr. Anto Bagus dengan program membuat obscurator, yaitu menutup lubang untuk penderita bibir sumbing. Masih banyak lagi orang-orang hebat tampil yang tidak bisa saya tuliskan satu per satu.

Sesi ketiga suasananya dibuat berbeda oleh panitia, suasana kas warung wedangan yaitu lesehan. Untuk sesi ini membahas tentang lembaga keuangan. Ada Masril Cotto dengan lembaga keuangan mikro yang assetnya sampai miliaran rupiah. Pengelolaan lembaga keuangan ini tidak mengadopsi lembaga keuangan pada umumnya, tetapi sesuai keinginan mereka, hal ini malah membuat berkembang pesat. Dompet duafa yang selama ini dikenal sebagai lembaga zakat tetapi ternyata saat ini juga mengelola lembaga keuangan mikro dalam bentuk BMT dan penyaluran kredit mikro untuk UMKM. Peramu, sebuah lembaga keuangan di Bogor yang dengan telaten menarik uang seratus rupiah per hari dari masyarakat. Tetapi dengan ketelatenan itu, saat ini lembaga tersebut bukan cuma menjadi tempat simpanan uang masyarakat tetapi juga telah memberikan kredit usaha mikro untuk masyarakat.

Sesi selanjutnya masih dalam suasana lesehan. Tampil orang-orang top yang udah biasa nongol di televisi, sebut saja Rhenald Kasali, Prie GS, Kukrit SW, Sandiogo S. Uno. Mereka berbicara mengenai dukungan terhadap kegiatan ini. Acara berubah jadi ger-geran ketika mas Prie GS tampil, seperti sebuah stand up comedy, yang jadi bahasan adalah selentingan Pak Rhenald Kasali. Hadirin dibuat tertawa terbahak-bahak. Sampai-sampai Pak Sandiogo S. Uno ikut membahas tentang yang satu itu ketika memberikan sambutan.

Sebenarnya acara dua hari, tetapi karena hari senin garus masuk kerja, terpaksa deh, untuk acara hari kedua tidak bisa ikut. Semoga dengan diadakannya acara ini bisa menggerakkan individu-individu lain untuk ikut terjun dalam kewirausahaan sosial

0 comments:

Post a Comment