Wednesday, August 22, 2012

Setelah Fitri Terus Apa?

Puasa sebulan penuh telah kita lalui, Idul Fitri telah kita rayakan. Setelah itu, yang jadi pertanyaan adalah, apakah benar kita kembali fitri atau bersih dari dosa-dosa? Pertanyaan kedua, kalau kita kembali fitri, apa selanjutnya yang akan kita lakukan?

Wih! kalau membaca dua pertanyaan di atas, sepertinya kok berat banget pertanyaannya, dan hanya orang-orang alim atau ahli agama saja yang bisa menjawabnya. Tapi jangan berkecil hati, kita pun bisa menjawabnya, setidaknya untuk diri kita sendiri. Ingat ceramah ustadz, Pak Ustadz pernah bilang kalau orang berpuasa itu diumpamakan seperti kepompong. Tahu kan? selama menjadi ulat, betapa rakusnya dia, sampai-sampai para petani harus menyemprotkan pestisida untuk mencegah keganasan ulat. Tetapi siklus berputar, ulat tak selamanya jadi ulat, ada saatnya menjadi kepompong. Saat menjadi kepompong, ulat berhenti makan, dengan kata lain dia berpuasa. Kenapa saat menjadi kepompong berpuasa? karena untuk peralihan dari makhluk yang rakus menjadi makhluk yang tidak rakus. Setelah menjadi kupu-kupu makanannya hanya madu saja, makannya pun secukupnya saja.

Lalu, apa hubungan pertanyaan nomor satu dengan cerita tentang siklus hidup ulat? saya ulang pertanyaan pertama, apakah benar kita kembali fitri atau bersih dari dosa-dosa? Jawabannya bisa diambil dari cerita si atas. Ulat menjadi kupu-kupu. Ulat rakus, kupu-kupu tidak. Secara kasar dapat saya simpulkan, kita akan benar kembali fitri jika setelah idul fitri sifat rakus telah hilang dari diri kita, ada perubahan ke arah yang lebih baik atau setidaknya ada peningkatan keimanan. Kalau dari cerita di atas, dari ulat yang buruk dan menjijikkan menjadi kupu-kupu yang manis dan indah.Misal, sebelum Idul Fitri sholatnya seminggu sekali, setelah idul fitri sholatnya bisa setiap hari. Kalau sebelum puasa kita gampang marah, setelah Idul Fitri dapat lebih mengendalikan marah. Jadi, kita mendapatkan Idul Fitri jika ada peningkatan keimanan atau amal ibadah setelah Idul Fitri. Itu menurut saya. Bagaimana menurut Anda?

Kemudian untuk pertanyaan kedua, kita juga bisa mengambil jawaban dari cerita di atas, yaitu harus ada perubahan. Kalau ulat setelah berpuasa (menjadi kepompong) menjadi kupu-kupu, atau dari buruk menjadi indah. Bagaimana setelah perubahan yang lebih baik? konsisten, atau dalam agama istilahnya istiqomah dalam kebaikannya, sukur-sukur semakin meningkat kebaikannya. Kan kita tidak pernah dengar atau melihat, kupu-kupu menjadi ulat lagi. Kupu-kupu tetap menjadi kupu-kupu sampai mati. Begitupun kita, harus seperti itu, tetap konsisten baiknya sampai kita mati.

0 comments:

Post a Comment