Friday, May 4, 2012

Pikiran Buruk Boleh, Tapi jangan Terus-terusan

Ketika mengalami kejadian, kita kadang mempunyai persepsi buruk. "Ini pasti karena ini...", "gara-gara itu"... Menurut saya, itu wajar, karena manusia bukan makhluk yang sempurna atau mempunyai sifat seperti malaikat. Seperti yang baru saja saya alami. Dua kali motor mogok di tempat yang sama, tepatnya di jembatan kaligarang. Sama-sama pas waktu pulang kerja. Ketika motor mogok di tempat yang sama, pikiran saya langsung berkata 'lho, kok macet di sini lagi'.

Berkesimpulan negatif, mudah sekali muncul dalam pikiran manusia. Apalagi bila pikiran sedang kacau. wisss.... segalanya jadi buruk. Tetapi, apakah pikiran buruk yang harus selalu muncul dalam pikiran manusia? Boleh muncul tetapi tidak boleh menguasai seluruh pikiran kita. Kita boleh khilaf tetapi ada saat kita harus bertobat. Boleh sekali waktu berburuk sangka, tetapi berbaik sangka harus dimunculkan dalam pikiran kita, agar kita tidak terpenjara dalam keburukan.

Sama seperti kasus yang saya alami. Boleh dalam hati saya berburuk sangka, 'wah..ini motor saya mogok dua kali di sini karena diganggu penghuni jembatan ini' *siapa ya penghuni jembatan kaligarang? (pengamen, gelandangan, pengendara kendaraan bermotor, dll)*. Kalau yang muncul hanya persepsi buruk, maka saya tidak akan pernah mencoba mengatasi masalah agar tidak terulang. Tetapi setelah berpikiran buruk, kemudian muncul pikiran baik atau positif, misalnya 'mungkin motor saya mogok karena perlu diservice karena sudah lama tidak diservice'

Dengan berpikir positif, kita dapat mencari solusi atas masalah yang kita hadapi. Sehingga, masalah yang sama tidak akan terulang lagi.

sepertinya tulisan saya di atas berat banget *berlalu*

0 comments:

Post a Comment