Tuesday, January 31, 2012

Mari Belajar Bercerita di Kelas Pencerita

kelas penceritaPada malam itu, hujan turun sangat deras dan petir menyambar-nyambar, dhuar!...dhuar!! keras sekali suaranya. Hujan deras dan petir yang menyambar-nyambar menyiutkan nyali orang-orang untuk keluar rumah. Jalanan sepi. Tetapi... perlahan-lahan terlihat orang berani menerobos hujan. Hujan deras, banjir, dan suara petir yang sangat keras tidak dihiraukan. Orang tersebut terus memacu kendaraannya menuju ke suatu tempat. Satu, dua, tiga, hingga dua puluh orang menyusul kemudian. Tampaknya mereka akan menghadiri suatu acara.

Sepertinya, cerita yang saya buat di atas tidak bagus. Pengennya mengilustrasikan acara yang saya hadiri minggu kemarin di Warung wedangan jalan Brotojoyo Semarang. Acaranya Indonesia Bercerita Semarang atau @idceritaSMG. Sudah dua kali kelas pencerita diadakan, yang pertama saya tidak ikut, baru pada acara kedua ini ikut.

kelas pencerita 2Pada session kedua ini, kelas pencerita menghadirkan kak @bukik dan @andhinisimeon. Tampil pertama berbagi ilmu yaitu andhini. Menceritakan pengalamannya menjadi seorang pencerita. Suka duka, dan beberapa tips dalam bercerita disampaikannya dengan jenaka. Berikut beberapa tips yang disampaikan kak andhini berdasarkan pengalamannya;
Menjadi Anak-anak
Dalam bercerita, dia selalu memposisikan dirinya seperti anak-anak. Makanya, dalam bercerita dia selalu memakai kaos, celana pendek, dan bersepatuk kets. Tujuannya untuk menarik perhatian anak-anak dan anak-anak tidak merasa ada jurang pemisah antara pencerita dengan mereka.
Umur Audiens
Golongan umur audies menjadi pertimbangan media yang akan digunakan sebagai alat untuk menyampaikan cerita. Jika audiensnya anak taman kanak-kanak, biasanya menggunakan media boneka binatang. Kalau anak usia sekolah dasar kelas 1-3, kak andhini menggunakan media boneka karakter manusia. Boneka yang dibawa kak andhini namanya Donna. Jadi, setiap golongan umur medianya berbeda-beda. Tujuannya untuk menarik perhatian audiens.
Jumlah audiens
Selain media utama untuk menarik minat audien, digunakan juga media pelengkap untuk mendukung pencerita dalam menyampaikan ceritanya. Seperti pengeras suara dan layar monitor. Tujuannya agar semua audiens mendengar dan melihat. Media elektronik tersebut digunakan jika jumlah audiens banyak dan tempat bercerita di luar ruangan, atau di dalam ruangan yang sangat luas.
kelas pencerita 3Penampil kedua yaitu kak @bukik, yang datang langsung dari Surabaya. Beliau berbagi pengalamannya selama menjadi pencerita bagi anaknya. Selama pengalamannya, kadang tokoh dalam cerita melekat pada anak-anak. Misalnya pernah suatu kali anaknya kak bukik marah sama dia dengan tidak mau ngomong, tapi kalau kak bukik ngomong atas nama tokoh dalam cerita, anaknya mau diajak ngomong.
Begitulah, sebenarnya masih banyak cerita seru dari pembicara, tetapi karena saking banyaknya cerita seru jadi lupa untuk mencatat dalam memori otak ini *alesan*

4 comments:

Jadi pencerita atau pendongeng itu seruuu...
Duh udah lama gak begitu lagi -_-
Dulu pas masih jadi guru Sekolah Minggu di gereja, tiap Minggu pasti ndongeng

@ceritaeka : iya, kelihatannya seru. saya sendiri tidak bisa menjadi pencerita, bisanya cuma menjadi pendengar setia, hehehe

Asiiik, ada reviewnya....besok2 gabung di #penceritajalanan ya kak :)
bercerita ke adik2 di rumahsakit, doakan proposalnya tembus
*amiiiin*

@oliph : aminnnn... semoga proposalnya disetujui *berdoa*

Post a Comment